Tips agar Anak Tidak Stres Belajar di Rumah Selama Masa Pandemi Covid-19

Tips agar Anak Tidak Stres Belajar di Rumah Selama Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Winarto Silaban,MPd

Dampak virus corona tidak hanya dirasakan orangtua. Namun, anak-anak juga bisa merasakan tekanan dan stres. Belajar di rumah yang dianggap berbeda di sekolah justru menambah beban mereka hingga stres.

Tugas-tugas dalam jumlah banyak yang diberikan guru setiap hari secara daring tak berbeda dengan pembelajaran konvensional yang diperoleh di sekolah.

Misalnya, siswa di semua jenjang ditugasi menulis esai, mengerjakan ratusan soal, merangkum materi buku pelajaran, menyalin soal dari buku, menulis isi salah satu nats dari kitab suci dan menghapalnya, menyanyikan lagu corona, disertai music dan harus divideokan. Lalu, tugas-tugas itu kemudian ditagih guru tanpa penjelasan, menyedihkan bukan?

Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI) dalam kurun waktu tiga minggu, terhitung sejak 16 Maret hingga 9 April 2020 mencatat 213 pengaduan  pembelajaran jarak jauh.

Dilansir sejumlah media online nasional, hampir 70 persen pengadu menyampaikan bahwa tugas yang diberikan para guru sangat berat dan waktu pengerjaannya pun sangat singkat. Kondisi demikian membuat anak-anak malah stres dan pekerjaan rumah jadi beban.

Lantaran situasinya tidak normal, pelaksanan pembelajaran jarak jauh atau online learning pun tidak bisa disamakan. Kemampuan ekonomi keluarga, guru, komunikasi, jarak dan sarana serta prasarana pun menjadi faktor di antaranya.

Belajar dari Anak atau Pembelajar

Selain faktor tersebut, keberadaan anak yang belum dipahami seutuhnya menjadi kendala. Asumsi bahwa anak sebuah kertas kosong, di mana guru tugas utamanya fokus pada mengajar (mengisi kertas kosong). Di sini, keterlibatan anak tidak penting termasuk inisiatif anak itu sendiri.

Pandangan tentang “kertas kosong” itu berlanjut ke SMA/SMK hingga ke perguruan tinggi. Dosen, meski tidak semua, mencari cara gampang yaitu hanya mengajar (knowledge transfer). Dosen malas mentransformasikan, menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Lalu, mahasiswa juga tak mau repot belajar sebelum masuk kelas.

Anak ataupun pembelajar adalah individu yang unik dengan segala sifatnya. Dengan begitu, mereka bukan kertas kosong yang pasif menerima apapun pengaruh dari lingkungannya. Memposisikan anak sebagai individu atau pembelajar yang memiliki pengetahuan (kognitif) akan membuat kegiatan pendidikan menyenangkan.

Setiap anak ataupun mahasiswa berbeda, temasuk gaya belajarnya yang tidak boleh disamakan. Itulah sebabnya esensi pendidikan itu sendiri adalah mengeluarkan dan menuntun. Ilmu pengetahuan itu juga bersumber dari masyarakat dan perlu dikembalikan kepada masyarakat. Peran pendidik (guru, dosen) membawa kebaikan dan kemajuan bagi peningkatan kualitas hidup manusia.

Perubahan menjadi Tuntutan

Kini, dalam kurun waktu kurang dari sebulan terjadi transformasi besar di sekolah maupun perguruan tinggi. Meskipun tidak semua sekolah ataupun perguruan tinggi mempunyai tingkat kesiapan yang sama, tetapi semuanya “dipaksa” belajar untuk beradaptasi dengan perubahan yang ada.

Kondisi krisis saat ini menyebabkan kampus berbenah diri mempersiapkan perkuliahan online dengan segala keterbatasannya. Revolusi Industri 4.0, internet of things (IoT) menjadi kenyataan.

Guru Kreatif

Guru dalam pembelajaran daring maupun konvensional jadi garda terdepan. Sebagai pendidik professional, tugas utamanya adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Itu sebabnya, bukan berlebihan, kementerian pendidikan dan kebudayaan mengimbau para pendidik untuk menghadirkan belajar dari rumah bagi siswa dan mahasiswa di tengah masa pandemic Covid-19. Imbauan itu sekaligus tantangan bagi para guru dan dosen untuk kreatif dalam menyampaikan materi pembelajaran jarak jauh yang menyenangkan agar keinginan belajar tetap tinggi.

HP android misalnya tidak asing bagi para pendidik. Itu dapat dimanfaatkan membuat video pembelajaran sesuai dengan bidang studi yang diajarkan. Bahkan lewat layanan google, pendidik dapat memanfaatkan berbagai platform media seperti Whatsapp, Google Classroom, Zoom dan lainnya.

Aplikasi itu dapat dengan mudah diakses asalkan paket data dan tersedianya jaringan internet. Pembelajaran terencana maupun tujuan pembelajaran yang diharapkan juga dapat disesuaikan sesuai kebutuhan dan waktu pelajar itu sendiri meski berjauhan. Kendati demikian, pembelajaran daring tidak akan berjalan dengan baik, jika guru maupun dosen dengan pelajar belum menjalin ikatan batin dengan melakukan perannya sebagai fasilitator, komunikator, mediator, dan motivator.

Orangtua jadi “Guru” di Rumah

Kolaborasi (kerjasama) guru dan orangtua harus tetap terjalin baik dalam kondisi normal maupun tidak normal (COVID-19). Orangtua menjadi guru menggantikan peran pendidik di sekolah. Sebagai guru, orangtua menjalankan tugas utamanya.  meski memiliki keterbatasan.

Peliknya menghadapi penyebaran virus corona memantik Kemendikbud memfasilitasi media digital milik negara seperti TVRI di luar swasta menjadi media alternatif membantu pembelajaran online di rumah meski kurang optimal.

Bila pembelajaran dalam jaringan tidak epektif lantas menyalahkan guru maupun dosen, terlalu terburu-buru dalam kondisi saat ini. Beratnya tanggungjawab menjalankan kurikulum membatasi pendidik untuk berkreasi dan berinovasi.

Kurikulum darurat menjadi pilihan alternatif bila semua pihak berkontribusi memerangi penyebaran virus corona. Untuk itulah, kolaborasi, dialog humanis antarguru dan orangtua penting diwujudkan dalam komitmen bagaimana pun situasinya. Sehingga, tujuan akhir pendidikan memanusiakan manusia serta yang dicita-citakan dalam konstitusi dapat terwujud.

 

Penulis : Dosen Prodi Biologi Univ.HKBP Nommensen Pematangsiantar

 

 

 

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *